TARI CACI (a ritual whip fight) di Manggarai- Nusa Tenggara Timur

Caci atau tari Caci atau adalah tari perang sekaligus permainan rakyat antara sepasang penari laki-laki yang bertarung dengan cambuk dan perisai di Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Penari yang bersenjatakan cambuk (pecut) bertindak sebagai penyerang dan seorang lainnya bertahan dengan menggunakan perisai (tameng). Tari ini dimainkan saat syukuran musim panen (hang woja) dan ritual tahun baru (penti) , upacara pembukaan lahan atau upacara adat besar lainnya.

Seorang laki-laki yang berperan sebagai pemukul (disebut paki) berusaha memecut lawan dengan pecut yang dibuat dari kulit kerbau/sapi yang dikeringkan. Pegangan pecut juga dibuat dari lilitan kulit kerbau. Di ujung pecut dipasang kulit kerbau tipis dan sudah kering dan keras yang disebut lempa atau lidi enau yang masih hijau (disebut pori). Laki-laki yang berperan sebagai penangkis (disebut ta’ang), menangkis lecutan pecut lawan dengan perisai yang disebut nggiling dan busur dari bambu berjalin rotan yang disebut agang atau tereng. Perisai berbentuk bundar, berlapis kulit kerbau yang sudah dikeringkan. Perisai dipegang dengan sebelah tangan, sementara sebelah tangan lainnya memegang busur penangkis.

Berikut beberapa foto pemain Caci anak-anak waktu mereka merayakan Hari Kemerdekaan Indonesia tgl 17 Agustus 2018

Penangkis (Ta’ang) dengan pecut (larik) dan tamengnya (nggiling) 👆

Pemukul (Paki) dengan Pecut (Larik) 👇

ready for action ❤️

pemukul (paki) sedang beraksi 😳 dipukul beneran lo sampai badan mereka merah-merah tapi menurut info mereka akan dikasih ramuan rempah-rempah yg berkhasiat simsalabim!!!

Para Penari yang menunggu giliran utk di/mencabuk dan menari berkeliling 😍❤️

Kostum dan Simbol

Caci berasal dari kata ca dan ci. Ca berarti satu dan ci berarti uji. Jadi, caci bermakna ujian satu lawan satu untuk membuktikan siapa yang kuat dan lemah.

Pemain dilengkapi dengan pecut (larik), perisai (nggiling), penangkis (koret), dan panggal (penutup kepala). Pemain bertelanjang dada, namun mengenakan pakaian perang pelindung paha dan betis berupa celana panjang warna putih dan sarung songke (songket khas Manggarai). Kain songket berwarna hitam dililitkan di pinggang hingga selutut untuk menutupi sebagian dari celana panjang. Di pinggang belakang dipasang untaian giring-giring yang berbunyi mengikuti gerakan pemain.

Topeng atau hiasan kepala (panggal) dibuat dari kulit kerbau yang keras berlapis kain berwarna-warni. Hiasan kepala yang berbentuk seperti tanduk kerbau ini dipakai untuk melindungi wajah dari pecutan. Wajah ditutupi kain destar sehingga mata masih bisa melihat arah gerakan dan pukulan lawan. Bagian kepala dan wajah pemain hampir seluruhnya tertutup hiasan kepala dan kain sarung (kain destar) yang dililit ketat di sekeliling wajah dengan maksud melindungi wajah dan mata dari cambukan. Seluruh kulit tubuh pemain adalah sah sebagai sasaran cambukan, kecuali bagian tubuh dari pinggang ke bawah yang ditandai sehelai kain yang menjuntai dari sabuk pinggang. Kulit bagian dada, punggung dan lengan yang terbuka adalah sasaran cambuk. Caci juga sekaligus merupakan medium pembuktian kekuatan seorang laki-laki Manggarai. Luka-luka akibat cambukan dikagumi sebagai lambang maskulinitas.

Selain itu Caci penuh dengan simbolisme terhadap kerbau yang dipercaya sebagai hewan terkuat dan terganas di daerah Manggarai. Pecut melambangkan kekuatan ayah kejantanan pria, dan langit. Perisai melambangkan ibu, kewanitaan, rahim , serta dunia. Ketika cambuk dilecutkan dan mengenai perisai, maka terjadi persatuan antara cambuk dan perisai.

Foto-foto berikut menunjukan keindahan hiasan kepala (panggal) pemain Caci

Pemain Caci dengan „giring-giring“

Peraturan Caci

Gendang sebagai musik pengiring. dan Caci dimainkan dua orang laki-laki, satu lawan satu, namun memukul dilakukan secara bergantian. Para pemain dibagi menjadi dua kelompok yang secara bergantian bertukar posisi sebagai kelompok penyerang dan kelompok bertahan. Caci selalu dimainkan oleh kelompok tuan rumah (ata one) dan kelompok pendatang dari desa lain (ata pe’ang atau disebut meka landang yang berarti tamu penantang). Tarian Danding atau tandak Manggarai ditarikan sebagai pembuka pertunjukan caci. Penari caci tidak hanya menari namun juga melecutkan cambuk ke lawan sembari berpantun dan bernyanyi. Lokasi pertandingan caci biasanya di halaman rumah adat.

Bila pukulan lawan dapat ditangkis, maka pecutan tidak akan mengenai badan. Kalau pecutan tidak dapat ditangkis, pemain akan menderita luka. Jika mata terkena cambukan, maka pemain itu langsung dinyatakan kalah (beke), dan kedua pemain segera diganti.

Pertarungan berlangsung dengan diiringi bunyi pukulan gendang dan gong, serta nyanyian (nenggo atau dere) para pendukung. Ketika wakil kelompok bertanding, anggota kelompok lainnya memberi dukungan sambil menari-nari. Tempurung kelapa dipakai sebagai tempat minum tuak yang dipercaya dapat menggandakan kekuatan para pemain dan penonton. Seperti layaknya pertandingan bela diri, sebagian penonton ada mendukung penyerang, sementara sebagian lagi mendukung pemain bertahan. Anggota kelompok atau penonton bersorak-sorak memberi dukungan agar cambuk dilecutkan lebih kuat lagi.

Penyanyi yang mengiringi Caci

Penonton 😁

Asal usul CACI

Konon atraksi bela diri tradisional atau tarian yang dianggap sakral ini selain dianggap Upacara Adat juga untuk menghormati para Leluhur dan juga untuk mempertemukan kembali para keturunan Raja Todo, penguasa kerajaan besar di Manggarai 300 tahun silam. Saat pertunjukan CACI warga kampung larut dalam kegembiraan menyambut ritual “Wajo Mora”. (menemukan kembali)

Sebelum melaksanakan Wajo Mora, seekor kerbau yang kelak menjadi hewan persembahan disiapkan di gerbang Kampung Todo. Hewan yang dipilih bukanlah kerbau biasa, melainkan seekor kerbau langka bertanduk domba yang disebut Kaba Lenggor. Pada saat yang sama, kepala suku atau tetua adat mengundang arwah para leluhur dengan melaksanakan upacara pemotongan ayam. Setelah itu, bersama tokoh adat dari kampung lain yang turut diundang, tetua adat memperlihatkan tambur atau gendang pusaka bernama Gendang Loke Nggereng.

Upacara dimulai dengan penyambutan tamu penting oleh kepala suku di dalam rumah adat yang disebut Kapu. Lalu, kerbau yang akan dipersembahkan digiring menuju altar atau compang. Kemudian, Kepala suku membacakan mantera meminta restu dari para leluhur. Setelah itu, sekelompok penari dan penyanyi mengelilingi hewan persembahan sambil melantunkan lagu „Sanda Lilik“ yang dianggap sakral. Puncak acara adalah penyembelihan hewan persembahan.

Bagi masyarakat setempat, ritual ini adalah saat yang mengharukan. Sebab, dengan selesainya ritual tadi warga telah membayar niat atau nazar Empo Pahu, leluhur mereka yang hidup 200 tahun silam. Menurut cerita rakyat penyelenggaraan upacara ini berawal dari mimpi satu di antara keturunan Empu Paho yang bernama Vitus Tamor. Lewat mimpinya, Vitus mendapat perintah untuk melaksanakan nazar leluhurnya tadi. Menurut Vitus, sebelum leluhurnya itu meninggal, Empo Pahu memang pernah bernazar mempersembahkan seekor kerbau langka bertanduk domba kepada Sang Pencipta demi persatuan dan kesejahteraan warga. Namun, hingga akhir hayatnya, nazar tersebut belum sempat terlaksana. Warga setempat percaya Sang Pencipta akan menganugerahkan keselamatan dan kesejahteraan bagi mereka dan masyarakat Kabupaten Manggarai pada umumnya setelah mereka melaksanakan ritual tersebut.

Buat kalian yg tertarik dg info tentang pertunjukan Caci di desa Todo bisa menghubungi Pak Titus tel. nr‭ 0062 813 7984914‬

Salam hangat dari Austria! Yuli

Cacatan kecil:

Seperti saya tulis di Blog sebelumnya saya bisa menyaksikan pertunjukan CACI ini gara-gara Supir kita nge-jam Karet 😂 dan akhirnya malah saya berterima-kasih kepada beliau karena kejamkaretannya 😂😂 dalam kasus ini saya terus-terang harus bilang HIDUP JAM KARET!!!

berbahagia itu bisa memberikan sebagian sumbangan Buku dan Alat tulis buat anak-anak SD yang hari itu menunjukan kelihaian mereka menari CACI

Penonton anak-anak yang pingiiiiin banget di foto bareng dengan Pak Bule 😂

Short English version 😬

Caci, a ritual whip fight is a major element of Manggarai cultural identity. Caci equipments consisting of a whip, a shield, masks, and sticks burst with symbolism: the aggressor’s whip is made out of rattan with a leather-covered handle. It symbolizes male, the phallic element, the father, and the sky. The defender’s round shield represents the female, the womb, and the earth. It’s usually made out of bamboo, rattan, and covered with buffalo hide. As this meanings suggest, the male and the female elements are united whenever the whip hits the shield- symbolizing a sexual unity as an essential premise in giving life. Being a unique and aesthetic delight for spectators, Caci performances are an attraction to foreign as well as domestic visitors of Manggarai.

Narasumber: Pak Titus, Google, Wikipedia. Fotos: Semua Foto adalah koleksi pribadi

Advertisements

Kommentar verfassen

Trage deine Daten unten ein oder klicke ein Icon um dich einzuloggen:

WordPress.com-Logo

Du kommentierst mit Deinem WordPress.com-Konto. Abmelden /  Ändern )

Google+ Foto

Du kommentierst mit Deinem Google+-Konto. Abmelden /  Ändern )

Twitter-Bild

Du kommentierst mit Deinem Twitter-Konto. Abmelden /  Ändern )

Facebook-Foto

Du kommentierst mit Deinem Facebook-Konto. Abmelden /  Ändern )

Verbinde mit %s